Sep 8, 2010

Siang di Jogja menjelang hari lebaran, jalan-jalan besar di Jogja dipenuhi kendaraan berplat luar. Berhubung saya orang yang ga suka berjibaku dalam kemacetan, maka hari ini saya memilih untuk diam di rumah saja. Surfing di dunia maya, ngutak-ngutik facebook yang sekarang rada membosankan, dan mampir di twitter saya yang hari ini sepi ( follow ya @tiiitooot *malah iklan* )

Hari ini pengen ngomongin lebaran, biar pas sama eventnya. hehe.

Lebaran adalah hal yang selalu saja dihubung-hubungkan dengan maaf, salam tempel, baju baru, THR dan hal-hal lain. kalau menurut saya, mungkin di antara hal-hal di atas, lebaran paling identik dengan maaf. kenapa maaf?

Karena kalau dilihat lebih dalam, lebaran atau idul fitri adalah peristiwa di mana umat Islam merayakan kemenangan menahan hawa nafsu selama satu bulan. Di mana di bulan fitri ini segala amal baik akan digandakan pahalanya, dan menurut yang saya baca dari berbagai sumber, puncak perayaan tertinggi hari lebaran adalah kembali pada fitrah alias suci tanpa dosa. Itulah sebabnya mengapa kata-kata Minal Aidin wal Faizin - maafkan lahir dan batin sering digunakan sebagai salam.

Bagi saya sendiri, kata maaf sebenarnya punya arti yang jauh lebih besar dari pada sekedarmelengkapi hari lebaran.

Maaf adalah pintu untuk memasuki lembaran baru ketika seseorang menyakiti kita dengan atau tanpa disengaja. Maaf menunjukkan bahwa kita sebagai manusia punya perasaan, dan itulah yang membedakan kita dengan ciptaan Tuhan yang lainnya.

Stok maaf, rasa-rasanya tidak cukup jika hanya kita miliki pada saat lebaran. Karena dalam kehidupan sehari-hari,

seringkali kita akan membutuhkan minta maaf dan memaafkan. Kata seorang teman saya, yang dia juga pinjam kata-kata ini dari buku apa *saya lupa* : ada tiga jenis maaf, salah satunya adalah maaf untuk maaf. Bagi saya kata-kata ini mengena. Karena sering kali kita kita minta maaf dengan terpaksa, minta maaf karena gengsi, dan sering juga memaafkan tanpa ketulusan.

Minta maaf dan memaafkan memang bukan perkara mudah. Tapi akan terasa indah, ketika dilakukan dengan tulus, ikhlas dan.. legowo *mirip nama Kereta Api*.

Saya percaya, semua permintaan maaf kita, diungkapkan dengan dengan cara apapun, sebaik apapun, tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukannya dengan tulus. Begitu juga dengan memaafkan. Apa guna memaafkan jika masih menyimpan dendam. Untuk apa memaafkan jika tidak mau melupakan kesalahan?

Berhubung besok hari lebaran, untuk semua yang merayakan, dan tidak merayakan : "Minal Aidin wal Faizin - maafkan lahir dan batin" yaa..

selamat lebaran!

what should not be forgotten . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates